Di luar kebesaran Tiger Woods dan Ariel yang memang tak sebanding, ada persamaan mereka yang bisa dijadikan pelajaran. Bagaimana seorang “news maker” bersikap ketika puja-puji yang biasa mereka terima, berubah caci-maki dan sumpah serapah dalam sekejap.
Eldrick Tont “Tiger” Woods, nama terbesar di dunia golf. Ia meraih status sebagai pegolf terbaik dunia pada 1997, saat ia belum satu tahun terjun ke dunia golf profesional atau tepatnya di pekan ke-42. Ia tercatat sebagai pegolf termuda yang menjuarai seri Grand Slam, dan memiliki gelar terbanyak di antara pegolf aktif saat ini.
14 kali menjuarai major championship, 71 kali juara PGA Tour, Tiger Woods pun menjadi pegolf dengan pendapatan terbesar di 9 tahun berbeda. Jika dijabarkan lebih detail, masih banyak lagi prestasinya, termasuk berbagai penghargaan dan gelar kehormatan yang diperolehnya. Nama Tiger di luar lapangan pun tidak kalah harum. Selain rajin memberi sumbangan kepada berbagai lembaga sosial, Tiger juga mendirikan sebuah yayasan bernama “The Tiger Woods Foundation” yang fokus mengurusi anak-anak. Tanpa dia inginkan pun, Tiger sudah terikat dengan jutaan orang yang melihat kebaikannya.
Namun nama besar Tiger Woods dipertaruhkan saat sebuah kecelakaan lalu-lintas di akhir tahun 2009 membuka kotak aibnya. Ia yang telah beristri dan dikaruniai 2 anak, diketahui selingkuh dan bukan hanya dengan 1 wanita. Setidaknya 7 perempuan yang sebaya juga yang jauh lebih tua darinya mengaku sebagai selingkuhan Tiger. Sementara 120 -ya, seratus dua puluh- wanita lain yang diberitakan media massa di Amerika, tidak dikonfirmasi hingga kini.
Profesi para wanita itu beragam, ada pelayan restoran, pegawai kantoran, model, hingga PSK. Pengakuan soal aktivitas seks mereka dengan Tiger pun mengejutkan, lebih tepatnya menyimpang.
Akibatnya sangat buruk. Tiger ditinggal sponsor, “pabrik-pabrik” uangnya tutup. Keluarga yang tentu saja merupakan harta paling berharga, di ambang kehancuran. Suara dunia yang sebelumnya merdu menyebut nama Tiger Wood, berubah menyakitkan telinga dan mengiris hati hingga rasa sakit yang tak terbayangkan.
Hancurkah Tiger? Tidak.
Kesalahannya memang tidak bisa dibenarkan, bahkan oleh kata-kata “Aku juga manusia” yang diucapkannya. Tetapi Tiger bukan manusia biasa. Kepribadiannya besar, sebesar namanya. Ia keluar, menghadapi masalah, mengakui kesalahannya, menyatakan penyesalan dan meminta maaf. Tak cuma itu saja, Tiger melakukan sesuatu untuk “berobat”.
Sakit adalah kondisi manusiawi, dosa dan kesalahan pun demikian. Sikap Tiger mengingatkan, jika ingin sembuh, orang sakit harus mengakui dirinya sakit dan berbuat sesuatu. Pun demikian jika salah, akui kesalahan dan lakukanlah sesuatu.
Jika diri sendiri sudah mengakui dan benar-benar menyesali, hinaan seperti apa lagi yang tidak bisa dihadapi? “Manusia-manusia” lain justru malu menunjukkan diri.
Tiger memang mengakhiri tahun 2009 dengan kehancuran dan lembaran hitam. Namun tindakannya yang tepat membuat ia mengawali tahun 2010 dengan tetap menjadi seorang Tiger yang besar, bukan “mantan orang besar”.

Ariel yang jadi “news maker” saat ini, berada di lubang yang sama di mana Tiger jatuh dulu. Bukan hanya namanya yang dipertaruhkan, tetapi juga “ikatan” dengan orang-orang yang menjadikannya idola. Ariel diuji, kebesarannya dicobai.
Akankah Ariel mengakui kesalahan dan menghadapi permasalahan, atau justru Ariel menunjukkan bahwa ia tidaklah sebesar namanya?
Aku bukan fans Ariel. Tetapi demi teman yang telah kecewa, aku berharap Ariel berbuat sesuatu yang benar untuknya, juga bisa mengobati sakit orang-orang yang “mengikatkan diri” dengannya. Lebih dari itu, berilah contoh terjemahan yang tepat dari kalimat, “aku juga manusia”.